Bencana Kutukan dan Bencana Berkat: Iblis Berjubah Malaikat Menantikan Air Mata Rakyat sebagai Sumber Penghidupan Elit Papua
![]() |
Fenomena hujan salju yang terlihat dalam video ini bukan di Eropa, melainkan di kampung halaman saya: Mume, Kwiyawagi, Papua Barat—sebuah daerah perbatasan yang diapit oleh Kabupaten Nduga, Lanny Jaya, dan Puncak, tepatnya di halaman kantor Klasis Gereja Injili di Indonesia (GIDI) Kwiyawagi.
Pemandangan ini terekam begitu indah, menyerupai musim salju di wilayah Eropa. Namun, di balik keindahannya, fenomena ini membawa bencana kekeringan yang buruk. Setelah lapisan es ini mencair, ia meninggalkan residu pada rerumputan hijau yang tampak menghitam seperti oli kotor. Paparan sinar matahari selanjutnya membuat es mencair secara alami, tetapi menyebabkan rumput dan tanaman di sekitarnya menjadi layu, kering, lalu mati. Akibatnya, terjadi stagnasi pertanian yang berujung pada kelaparan parah.
Bagi masyarakat adat Kwiyawagi, fenomena ini adalah bencana alam yang mendatangkan penderitaan nyata: hilangnya sumber pangan dan lahirnya krisis kelaparan.
Namun, bagi elit lokal Papua di jajaran pemerintahan—seperti di Kabupaten Puncak, Nduga, dan Lanny Jaya—kondisi ini justru dipandang sebagai "berkat".
Atas nama penanggulangan bencana, mereka mengajukan proyek anggaran melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di tingkat kabupaten maupun provinsi. Sayangnya, dana miliaran rupiah yang dikucurkan selama ini diduga kuat tidak digunakan sebagaimana mestinya. Fenomena bencana ini terkesan bergeser menjadi lahan bisnis bagi kaum elit lokal Papua sekaligus arena kepentingan militer Indonesia.
Di dataran Kwiyawagi, terdapat dua bencana rutin yang permanen terjadi setiap tahun:
Bencana kekeringan akibat hujan embun salju, atau yang oleh masyarakat setempat disebut Aworak Kani, dan bencana penyumbatan Sungai Balim.
Sebagai contoh, pada kasus kekeringan akibat hujan embun salju tahun 2023 di Distrik Agandugume dan Lambewi (Kabupaten Puncak), Penjabat Bupati saat itu, Willem Wandik, menetapkan kedua wilayah tersebut dalam status tanggap darurat. Pemkab Puncak melalui BPBD kemudian mengusulkan anggaran ke tingkat provinsi hingga pusat. Proyek tersebut lantas dilimpahkan kepada militer Indonesia oleh kementerian terkait dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Realisasinya adalah pembangunan gudang logistik di Distrik Sinak oleh TNI.
Rencananya, pembangunan dilanjutkan ke Agandugume sebagai pusat lokasi bencana. Namun, kenyataannya, gudang tersebut tidak pernah dibangun di Agandugume. Yang terealisasi justru pengerahan pasukan militer yang menduduki dan menetap di Agandugume selama bertahun-tahun. Lantas, apa yang mereka lakukan di sana?
TNI mengklaim keberadaan mereka di sana adalah untuk menjalankan tugas utama serta merebut wilayah atau markas TPNPB. Namun, narasi yang beredar tidak tunggal. Alasan sebenarnya di balik keberadaan militer Indonesia di Agandugume selama bertahun-tahun masih menyimpan tanda tanya besar.
Belakangan ini, publik—khususnya masyarakat adat Kwiyawagi, Agandugume, dan Lambewi—dikagetkan oleh rumor dan ekspos di media sosial mengenai indikasi penemuan kandungan mineral uranium serta gas bumi di wilayah mereka.
Pada akhirnya, di balik air mata rakyat, terdapat sumber "berkat" bagi elit lokal Papua. Di balik kenyangnya para elit, ada kepentingan negara dan oligarki yang bermain. Bencana bagi rakyat kecil adalah MALAPETAKA, tetapi bagi ELIT LOKAL PAPUA, bencana adalah sumber penghidupan dapur, sementara bagi kaum oligarki dan negara, bencana adalah sumber pundi-pundi kekayaan.
Pengembara
Kwiyawagi, Selasa, 18 Agustus 2026
